top of page

Refleksi Hari Perempuan Pedesaan Internasional: Mengapa Anak Muda Bojonegoro Harus Peduli?

Gambar penulis: Ademos Indonesia
Ademos Indonesia
15 jam yang lalu
3 menit membaca


Setiap tanggal 15 Oktober diperingati sebagai Hari Perempuan Pedesaan Internasional. Peringatan ini diresmikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2007. Sejarah peringatan perempuan pedesaan ini berangkat dari gagasan untuk memberikan pengakuan khusus kepada perempuan-perempuan di desa yang memiliki peran penting dalam bidang pertanian, ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, serta pengentasan kemiskinan.


Perempuan merupakan 43% dari total angkatan kerja pertanian di negara-negara berkembang. Di beberapa negara Asia dan Afrika, angkanya bisa melampaui 50%. Namun, kurang dari 15% pemilik lahan pertanian adalah perempuan. Di Indonesia, persentase angkatan kerja perempuan di sektor pertanian mencapai 47,62%. Namun, hanya 14,4% perempuan yang diakui secara resmi sebagai pengelola atau pemilik usaha tani.


Ironisnya jutaan perempuan di Indonesia bekerja sebagai petani gurem, buruh tani, dan pengolah hasil panen. Namun, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, upah buruh tani perempuan secara konsisten berada di bawah upah buruh tani laki-laki untuk jenis pekerjaan dan durasi waktu yang seringkali sama.


Refleksi Hari Perempuan Pedesaan Internasional di Bojonegoro


Peringatan Hari Perempuan Pedesaan Internasional sering kali luput dari radar perbincangan anak muda Bojonegoro. Bojonegoro adalah wilayah agraris dan lumbung pangan dengan dinamika sosial-ekonomi yang khas. Fakta-fakta yang perlu direfleksikan di Hari Perempuan Pedesaan Internasional oleh anak muda Bojonegoro adalah peran sentral di sektor pertanian dan beban ganda perempuan.


BPS Kabupaten Bojonegoro tahun 2023 mengungkap fakta bahwa 361.706 orang adalah pekerja di sektor pertanian. Namun, praktiknya sebagian besar dari ratusan ribu tenaga kerja pertanian tersebut ditopang oleh buruh tani Perempuan meskipun di KTP tertulis sebagai Ibu Rumah Tangga. Contoh, Mitra Produksi Sigaret (MPS) Dander Bojonegoro, tercatat ada sebanyak 3.090 tenaga kerja (data Februari 2024). Dari jumlah ribuan pekerja tersebut, mayoritas mutlak adalah perempuan yang bekerja sebagai buruh pelinting dan penyortir tembakau.Ā 


Mirisnya, BPS secara konsisten merilis data bahwa rata-rata upah buruh perempuan di sektor pertanian selalu lebih rendah dibandingkan buruh laki-laki, yaitu antara 20% hingga 30%. Misalnya, jika buruh tani laki-laki mendapat upah Rp80.000 per hari, perempuan yang melakukan pekerjaan tandurĀ (tanam) atau matun (menyiangi rumput) hanya diupah Rp60.000 per hari.


Peran Anak Muda Bojonegoro



Mengapa urusan "ibu-ibu di sawah" ini harus menjadi kepedulian anak muda Bojonegoro? Jawabannya sederhana, karena kemiskinan dan ketidakadilan yang dialami perempuan tani hari ini adalah ancaman langsung bagi generasi muda esok hari. Upah yang rendah dan tidak adanya jaminan sosial membuat ekonomi keluarga buruh tani sangat rentan. Ratusan kasus dispensasi kawin di Bojonegoro setiap tahunnya mayoritas lahir dari rahim kemiskinan ini, yang ujungnya mencetak rantai putus sekolah dan melahirkan generasi stunting.


Sebagai generasi masa depan Bojonegoro, anak muda tidak boleh hanya sebagai penonton realita. Anak muda bisa berperan menjadi fasilitator literasi ekonomi dan bagi kelompok perempuan desa. Anak muda dapat membuka ruang edukasi sebaya (peer education) bagi remaja perempuan di desa yang membahas tentang edukasi isu-isu terkini. Ibu-ibu di desa didampingi dan dilatih mengembangkan nilai tambah komoditas lokal menjadi produk olahan pangan dan memasarkannya secara online, sehingga pendapatan mereka tidak hanya bergantung pada upah buruh harian.


Langkah berdampak lainnya adalah advokasi alokasi Dana Desa yang responsif gender. Kelompok perempuan didampingi agar bisa bersuara untuk memastikan anggaran desa tidak hanya untuk pembangunan infrastruktur, tetapi juga untuk pelatihan keterampilan perempuan, dan program perlindungan anak dari pernikahan dini.


Hari Perempuan Pedesaan tidak cukup dirayakan di media sosial saja, melainkan butuh peran nyata dari anak muda. Perubahan besar selalu berawal dari desa, dan anak muda adalah pemegang kunci untuk mengawal agar predikat lumbung pangan yang dibanggakan Bojonegoro selaras dengan kesejahteraan masyarakat perempuannya. (Dian Fitriyani)

Komentar


Ademos

Kantor Pusat :

Jl. Raya Purwosari Jl. Ngambon, RT.012/RW.03, Kuluhan, Dolokgede, Kec. Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 62166

0811-3394-567

Bareng

Ayo Sinau

© 2025 Ademos Indonesia. All right reserved.

  • Instagram
  • Facebook
  • Twitter
  • YouTube
  • TikTok
bottom of page